Sabtu, 21 Juli 2018

Pentingnya Literasi atau Minat Baca bagi Indonesia

A.    Pendahuluan
Indonesia merupakan negara berkembang dengan tingkat arus globalisasi yang terus mencanangkan pengubahan masa depan Indonesia itu sendiri.
Masih mengenai pembahasan perkembangan negara Indonesia, perlu diketahui bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya raya akan alamnya, namun Indeks Perkembangan Manusia (IPM) dari Indonesia masih cukup rendah bidandingkan dengan negara-negara lain di ASEAN itu sendiri.
Efek dari Indeks Perkembangan Manusia yang rendah itulah yang membuat masyarakat Indonesia memiliki tingkat kemampuan kognitif yang kurang dari sisi akademis maupun spiritual.
Tapi, apa yang menyebabkan degradasi dari Indeks Perkembangan Manusia? Tentu kurangnya minat baca dari masyarakat Indonesia. Melalui perspektif negara lain, Indonesia dianggap masih memiliki warga negara yang buta huruf dan kurangnya literasi atau minat baca.
Hal inilah yang harus dijadikan fragmen fundamental dalam rangka pembangunan Indonesia menjadi negara maju, perlu diadakan suatu revolusi dan rekonsiliasi yang menanamkan moralitas semangat dalam membaca.
Membaca sama halnya dengan menambah wawasan pada apa yang telah dibaca seperti contohnya adalah buku sastra, karya ilmiah, dan lain-lain. Dengan membaca, manfaat yang didapat sangat banyak, bahkan kemampuan linguistik dan pola pikir yang analitis serta kritis akan terlukis dari manfaat membaca.
Untuk mengangkat tongkat estafet Indonesia masa depan, minat baca menjadi faktor yang penting, karena perlu diketahui bahwa tingkat literasi minat baca di Indonesia itu sendiri masih rendah. Oleh karena itu, masyarakat dan pemerintah harus mampu menciptakan sinergivitas dan koneksi yang luas dalam rangka menyuluhkan akan pentingnya literasi atau minat baca.



B.     Isi
Minat baca adalah suatu kemampuan secara individu untuk memahami, menganalisa, menulis, memecahkan masalah, dan berbicara. Minat baca menjadi hal yang fundamental dalam rangka pembangunan masyarakat yang modern.
Minat baca mampu meningkatkan daya intelektual dan tentunya mengurangi adanya disintegrasi moral. Karena dengan minat baca mampu mendorong masyarakat tentunya agar lebih banyak lagi membaca dan membaca merupakan kegiatan positif yang mengkonsolidasi moralitas baik.
Dilansir dari Scientific American (Jurnal Ilmiah), bahwa dengan membaca mampu meningkatkan moralitas dan menjadikan seseorang pandai dalam berpikir, menganalisa serta memecahkan masalah terhadap sesuatu.
Karena dengan membaca mampu merekonstruksi pola pikir bangsa Indonesia agar cepat dalam menangani masalah dan mempunyai pemikiran yang kritis.
Tapi, masalahnya di negara Indonesia itu sendiri, tingkat literasi juga minat baca masih sangat rendah.
Dalam data yang dikemas oleh TheJakartaPost.com, Indonesia menduduki peringkat kedua dari bawah dalam hal minat baca. Hal ini ditandai oleh malasnya membaca dari masyarakat Indonesia itu sendiri.
Beberapa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Indonesia telah menerapkan sistem belajar dengan literasi dan minat baca, seperti contohnya adalah SMAN 68 Jakarta yang menanamkan pola pikir semangat membaca dan mencanangkan program literasi demi menunjang generasi Indonesia yang cerdas.
Minat baca seperti yang diketahui dapat mengurangi adanya disintegrasi moral, karena moralitas orang yang berpendidikan adalah orang yang memiliki minat baca dan rasa penasaran yang tinggi. Bangsa yang besar adalah bangsa yang berteguh pada moralitas yang ada.
Mengabaikan konteks sosial budaya dan pendidikan berkarakter adalah contoh dari disintegrasi moral akibat kurangnya minat baca. Karena model literasi bekerja mengaplikasikan generasi cerdas untuk awal dari Indonesia emas.
Tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini jelas jauh lebih kompleks dari sekadar melek huruf atau seperti yang dirumuskan dalam Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah. Definisi literasi yang sekadar kemampuan membaca dan menulis tanpa melihatnya sebagai bagian dari praksis dapat mengurangi kemanfaatan dan mengecilkan makna literasi.
Untuk itu perlu dibangun model literasi yang lebih bermanfaat yaitu yang memperhatikan yang praksis sebagai yang utama, karena berawal dari yang praksis terciptalah kemampuan. Untuk semakin “menjadi”, maka kemampuan itu justru secara berkelanjutan diasah dan diteguhkan dalam yang praksis.
Model literasi yang lebih bermanfaat adalah yang dibangun dengan makna yang lebih mendalam dan holistik, menyentuh sisi-sisi kesadaran individual dan kolektif.
Dalam hal ini, literasi sebaiknya dibangun atas dasar apa yang dikatakan Paulo Freire sebagai “conscientisation” yaitu proses belajar yang bertujuan melahirkan “kesadaran kritis” individual atau kelompok yang bersifat otonom, memanusiakan, dan memerdekakan. Artinya, literasi menyangkut pula sebuah proses penanaman metode berpikir yang dapat bermanfaat bagi pembangunan manusia.
Dalam pengertian ini literasi juga dipahami sebagai proses belajar sepanjang masa (life-long learning) dalam rangka menjadi Subjek, yaitu karakter manusia yang bijak, kritis, kreatif, dan peduli serta dapat bersimpati, berempati, dan berkompati (compathy) pada diri, sesama manusia, serta lingkungan hidupnya.
Pertama, walau angka buta huruf kecil, masyarakat kita belum sepenuhnya masuk ke dalam budaya tulisan. Budaya lisan masih dominan dihidupi oleh warga masyarakat.
Kedua, masyarakat Indonesia memiliki karakter budaya komunal yang kuat. Dan ketiga, hampir di seluruh belahan dunia saat ini, tak terkecuali Indonesia telah menjadi bagian dari sebuah jaringan raksasa masyarakat digital dunia.
Ketiga karakter ini bukan berarti kesalahan ataupun kelemahan, sebaliknya justru harus menjadi perhatian utama supaya dapat ditemukan pendekatan yang kontekstual dalam mencapai cita-cita pembangunan manusia Indonesia melalui literasi.
Bila model literasi tidak memperhitungkan kekuatan budaya lisan dan hanya fokus pada pendekatan tulisan, tampaknya cita-cita literasi akan lambat dicapai. Sebaliknya yang perlu dikembangkan adalah metode pembelajaran yang cukup seimbang memanfaatkan berbagai pendekatan lisan dan tulisan.
Di sisi lain, pendekatan komunal sebenarnya dapat menjadi kekuatan dalam meningkatkan literasi. Untuk itu, dapat dipikirkan lebih lanjut berbagai pendekatan pembelajaran yang dilakukan secara komunal, sehingga literasi dapat menjadi bagian dari budaya.
Negara Jepang sebelumnya adalah negara yang otoriter dan tidak maju, Jepang memiliki sejarah yang sangat panjang dalam merekonstruksi bangsa dan negaranya sehingga menciptakan negara Jepang seperti yang kita kenal sekarang sebagai negara adidaya di Asia.
Perlu diketahui bahwa negara Jepang dahulu kala masih buta huruf dan















C.    Kesimpulan
Dalam kesimpulan ini, saya ingin memberikan argumentasi pentingnya literasi dan solusi serta tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang untuk menciptakan generasi cerdas dalam rangka Indonesia emas.
Literasi menjadi tonggak penentu kemajuan suatu bangsa di negara, dikarenakan oleh rendahnya Indeks Perkembangan Manusia (IPM) dan tingkat literasi minat baca di Indonesia, maka haruslah menanamkan metode literasi yang kontekstual.
Seperti yang diketahui dalam artikulasi Isi yang saya tulis, bahwa Indonesia memiliki karakter budaya komunal yang kuat.
Kita dapat menanamkan moralitas dalam literasi minat baca melalui ikatan komunal atau pendekatan komunal karena bisa menjadi kekuatan dalam meningkatkan literasi.
Dan metode penanaman semangat minat baca juga tidak selalu menggaungkan masalah yang terfokus pada pendekatan lisan karena akan lambat dicapai dalam mengembangkan cita-cita literasi masyarakat Indonesia.
Oleh karena itu melalui pendekatan komunal adalah langkah awal dan pemerintah juga harus terus giat dalam menciptakan sinergivitas dengan masyarakat Indonesia melalui penanaman metode literasi ini.

Artikel Terkait

Tertarik dengan hal-hal misteri dan astronomi
vi veri universum vivus vici
By the power of truth, I, while living, have conquered the universe.

This Is The Newest Post

gunakan formulir komentar dengan bijak, jangan promosi tanpa seizin owner
EmoticonEmoticon